Archived entries for Tempat

Iga Bakar Jogja di Bandung

Kuliner Bandung, Iga Bakar Bandung

Kamu pecinta masakan Iga? Nah, di Bandung ada Iga Bakar Jogja, salah satu menunya disebut Iga Bakar Blacan. Mau tau rasanya? Continue reading…

Gasibu Steril Mulai Minggu Ini

Jalan-jalan keliling kota Bandung di hari Minggu? Sudah pasti kita akan menghindari kawasan Gasibu. Area tersebut terkenal macet karena dipadati pedagang kaki lima (PKL).

Kemacetan Gasibu

Kemacetan Gasibu

Nah, mulai Minggu (31/1) ini,  jalan-jalan di sekitar Gasibu akan dikembalikan fungsinya sebagai jalur kendaraan. Jl. Surapati, Jl. Sentot Alibasjah, dan Jl. Diponegoro akan dikosongkan dan dibebaskan dari PKL. Penertiban ini akan dilakukan bertahap selama satu bulan.

“Seluruh PKL yang biasanya menempati ruas jalan itu, Minggu pagi besok silakan mengatur dirinya masing-masing untuk berjualan hanya di dalam Lapangan Gasibu dan Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat untuk sementara. Setelah empat minggu, baru nanti Lapangan Gasibu akan betul-betul disterilkan dari PKL,” ungkap Timbul Butarbutar, Asisten I Bidang Pemerintahan Pemkot Bandung.

Untuk menjaga fungsi jalan sebagaimana mestinya dan tak ada lagi PKL yang berjualan di sana, selama sebulan atau empat minggu petugas akan menjaga ketiga ruas jalan tersebut. Setelah empat minggu, kata Timbul, pemkot akan memperbaiki fungsi Lapangan Gasibu sebagai tempat olahraga dan aktivitas masyarakat. PKL bisa pindah berjualan, namun pemkot tak akan melakukan relokasi ataupun memberikan kompensasi. Menurut Timbul, PKL Gasibu merupakan pedagang mobile yang biasa berpindah tempat. Sebagian juga memiliki kios di tempat lain. “Jadi ya silakan kembali ke tempat asal mereka,” tegasnya.

Sedikitnya 300 personel dari Satpol PP, Dishub, Kepolisian, TNI dan aparat kewilayahan akan diturunkan untuk menertibkan kawasan Gasibu. Ferdi selaku anggota Satpol PP mengatakan, “Kita tidak bermaksud memerangi PKL, tapi kita ingin Bandung bersih dan tertib serta memfungsikan kembali jalan agar masyarakat bisa nyaman.”

Dikatakan oleh Ferdi, pihak Satpol PP sudah mengajak partisipasi dari komunitas PKL. Bahkan seminggu sebelumnya pun di pasang empat spanduk sebagai sosialisasi pengosongan ketiga jalur. “Kita sudah lakukan sosialisasi dan meminta mereka untuk berdagang, dan tidak menimbulkan kemacetan jalan raya. Saya kira PKL yang masuk ke Gasibu bisa mengaturnya,” tandasnya.

Pihak Kapolrestabes Bandung menambahkan, penertiban ini merupakan upaya mengatasi keluhan masyarakat tentang kemacetan di sekitar Gasibu setiap hari Minggu. Hal ini juga terkait keamanan jembatan Pasupati yang sempat mengalami keregangan.

Sumber:
300 Personal Sterilkan Gasibu
Mulai Minggu (23/1) PKL Gasibu Akan Ditertibkan

Gambar dokumentasi Galamedia.

Tugu Bandung Lautan Api

Pasti banyak yang mengenal lagu Halo-halo Bandung yang diciptakan oleh Ismail Marzuki. Lagu ini bercerita mengenai peristiwa Bandung Lautan Api yang terjadi pada Maret 1946 tersebut. Dikisahkan Bandung yang saat itu merupakan basis militer penting, diserang oleh tentara Belanda yang berusaha merebut kembali kekuasaan di Indonesia. Rakyat dan tentara Republik Indonesia yang tidak rela Bandung kembali diduduki oleh pemerintah kolonial Belanda kemudian membumihanguskan kota. Untuk mengenang peristiwa tersebut, dibangun Tugu Bandung Lautan Api. Saat ini tugu tersebut dapat dilihat di dalam Taman Tegallega. Taman Tegallega sendiri merupakan salah satu ruang terbuka publik yang memiliki luas 16 Ha (sesuai dengan namanya tegal=lapangan, lega=luas). Dulunya taman ini digunakan sebagai tempat pertunjukkan pacuan kuda yang digemari oleh masyarakat baik dari dalam maupun luar Kota Bandung. Mungkin banyak yang belum mengetahui arti dari tugu ini dan kaitannya dengan sejarah Bandung khususnya dan Indonesia pada umumnya. Oleh karena itu jika anda mengunjungi Bandung dan mampir ke daerah Tegallega, jangan lupa untuk sejenak menengok Tugu Bandung Lautan Api. Tugu yang sarat makna sejarah mengenai perjuangan anak negeri.

Melirik Kuliner Bandung Selatan

Menggeliatnya kehidupan dan industri kuliner di Kota Bandung sebenarnya bukan tanpa , masalah. Selain belum ada tata ruang yang jelas mengenai peruntukan sentra-sentra kuliner yang ada, perkembangan kuliner juga cenderung mengarah ke tengah dan utara Bandung. Konsekuensinya, kedua kawasan itu ketiban beban persoalan, berupa kemacetan yang kian menjadi-jadi akibat meningkatnya volume kendaraan.

Akibatnya, rasa nyaman menjadi komoditas yang mahal, bukan hanya bagi warga sekitar, tetapi juga bagi para pemburu kuliner itu sendiri. Belum lagi ditambah oleh persoalan lain, kian langkanya lahan parkir. Bagaimanapun, kehadiran konsumen dengan beragam kendaraannya, membutuhkan ketersediaan area parkir yang memadai. Padahal, lahan parkir kian terbatas. Jika pun ada, sering memunculkan pertengkaran, yang berujung pada hilangnya rasa nyaman.

“Berburu kuliner di kawasan Bandung utara dan tengah bukan tanpa risiko, terutama risiko terjebak kemacetan. Soalnya, yang senang berburu kuliner di Kota Bandung bukan hanya kita orang Bandung, tetapi juga orang-orang luar kota. Lihat saja kendaraan yang memadati kota, kebanyakan berpelat nomor B,” kata Dion Widjaja, manajer Peta Square, sentra kuliner baru yang terletak di Jln. Peta 256 Bandung.

Atas alasan itulah, menurut Dion, ada baiknya warga dan pemburu kuliner, mulai melirik potensi kuliner yang ada di kawasan selatan Bandung. Apalagi, belakangan mulai bermunculan tempat atau sentra kuliner baru di kawasan tersebut “Hanya, keberadaan sentra-sentra kuliner tersebut masih kurang diketahui,” kata Dion.

Lulusan Marketing/Manajemen dan Psikologi Monash University Australia ini pun memberanikan diri terjun ke bisnis kuliner dengan memilih lokasi di kawasan Bandung selatan. Dion yakin, kawasan Bandung selatan akan menjadi alternatif wisata kuliner Kota Bandung. Tentu saja dengan satu syarat, Pemkot Bandung serius menggarap potensi tersebut.

“Kalau pemkot sungguh-sungguh menggarap wisata kuliner, saya rasa sangat memungkinkan, apalagi warga Jakarta sudah cukup gerah dengan kondisi kepadatan dan kemacetan di Jakarta. Mereka yang ingin menghindari keadaan.serupa di Bandung utara dan tengah, tentunya akan beralih ke Bandung selatan, ujar Dion seraya menyebutkan sekarang sudah beroperasi Festival City dan hotel di sekitar Jln. Peta.

Jika bisnis kuliner berkembang di kawasan Bandung selatan, menurut Dion, bukan saja menjadi alternatif dan solusi dalam mengurai problem kemacetan yang ada di Kota Bandung, tetapi pada saat yang sama juga membuka peluang usaha dan menyerap tenaga kerja. “PAD otomatis masuk ke pemkot, angka pengangguran bisa sedikit dikurangi,” katanya.

Dede Rohman, pengelola es campur Pak Utuy setuju dengan pendapat Dion. Kian menyebarnya sentra-sentra kuliner di Kota Bandung sangat baik bagi perkembangan industri kuliner itu sendiri. “Secara bisnis, saya sangat setuju jika industri kuliner berkembang di kawasan selatan, tidak melulu di tengah dan utara,” kata Dede yang bersama saudaranya mengelola sejumlah gerai es campur dengan merek Pak Utuy. “Induk kami memang ada di Jalan Sade-wa, tetapi alhamdulillah, kami j Jga punya beberapa outlet di sejuirilah sentra kuliner. Termasuk di Peta Square ini,” . lcata Dede yahg menyebut salah satu menu andalannya adalah es alpuket negro.

Begitu pula dengan Aditya, wiraswasta asal Kopo Kencana Bandung, sangat senang jika sentra kuliner juga berkembang di kawasan Bandung selatan. “Itu akan lebih bagus, karena orang-orang seperti saya tidak harus kejebak saat berburu kuliner. Yang penting rasa dan suasana. Jika dua hal itu terpenuhi, saya kira orang akan berdatangan dengan sendirinya,” kata Aditya, penggemar iga bakar dan jenis-jenis mi ini.

Sumber : Pikiran Rakyat

Museum Geologi

Museum Geologi Bandung dibuka untuk pertama kali tanggal 16 Mei 1929 dengan nama Geologische Museum, di bawah lembaga pertambangan pemerintah kolonial Belanda, Dienst van het Mijnwezen . Pembukaan museum ini berkaitan erat dengan sejarah  penyelidikan geologi dan tambang di wilayah Nusantara yang dimulai sejak pertengahan abad ke-17 oleh para ahli di eropa. Memiliki koleksi bebatuan, mineral, meteorit, fosil dan artefak, pengunjung akan diajak untuk memahami fenomena – fenomena geologi yang  pernah terjadi di Indonesia, dan kaitannya dengan kehidupan manusia saat ini. Atraksi utama di Museum Geologi antara lain fosil Homo Erectus, fosil gajah prasejarah Stegodon trigonocephalus, dan fosil spesies dinosaurus karnivora terbesar yang pernah ditemukan yaitu Tyrannosaurus rex yang hiduo di masa Cretaceous.

Saat ini Museum Geologi berada di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Gedung museum telah diperbaiki dan ditata dengan bantuan dari JICA (Japan International Cooperation Agency). Kondisi museum sangat terawat, dan jauh dari kesan suram yang biasanya melekat pada museum-museum di Indonesia.

Terletak di Jalan Diponegoro No. 57 ( dekat Gedung Sate), museum ini buka setiap hari dari Senin hingga Kamis dari pukul 09.00-15.00 WIB, dan hari Sabtu – minggu dari pukul 09.00-13.00 WIB. Museum tidak beroperasi pada hari Jum’at dan hari libur nasional. Tarif masuk museum Geologi sangat terjangkau yaitu Rp 2.000 untuk umum dan Rp 1.500 untuk pelajar.

Dengan gedung kolonial belanda yang menawan dan koleksi yang tertata dengan baik, museum Geologi sangat menarik untuk dikunjungi oleh anda yang mencari alternatif wisata murah dan memiliki unsur edukasi tinggi di tengah-tengah kota Bandung.

Museum Geologi Bandung
Jl. Diponegoro No.57
Bandung – 40122
Jawa Barat, Indonesia
Telepon : +6222 7213822

Jalur KA Bandung-Sukabumi dibuka kembali

Jalur Kereta Api Bandung-Cianjur-Sukabumi akan dibuka kembali, setelah dihentikan operasionalnya sejak tahun 1980-an. Layanan Kereta Api ke arah Sukabumi dari Bandung, hingga tahun 2002 sebenarnya masih ada , akan tetapi hanya sampai stasiun Lampengan (antar Cianjur – Sukabumi) dan operasionalnya sering terhambat oleh rembesan air di terowongan Lampengan. Saat ini Departemen Perhubungan sedang berusaha memperbaiki jalur Kereta Api Bandung-Sukabumi agar nyaman dan aman untuk dilalui.

Pembukaan jalur Kereta Api Bandung-Sukabumi akan memudahkan akses masyarakat yang tinggal jauh dari jalan raya. Terutama di kawasan sekitar Stasiun Cibeber, Stasiun Lampengan, dan Stasiun Cireungas. Selain itu dari sisi pariwisata, pembukaan jalur kereta api ini menyimpan potensi wisata yang besar, mengingat jalur ke arah Sukabumi dari Bandung memiliki pemandangan yang indah. Melewati beberapa pegunungan dan memiliki beberapa terowongan yang legendaris, termasuk Lampengan.

Jika sudah mulai beroperasi perjalanan naik Kereta Api dari Bandung ke Sukabumi, patut kita coba.

Sumber : Pikiran Rakyat

Kampung Gajah

Mencari Alternatif baru wisata di Kota Bandung?

Bagaimana kalo kita tengok Kampung Gajah.

Eiitss…jangan membayangkan Kampung Gajah seperti Way Kambas di Lampung dimana banyak gajah berkeliaran. Kampung Gajah yang berlokasi 3,8 Km dari teminal Lembang ini, merupakan tempat wisata keluarga yang bertema : Wisata, Belanja, Kuliner.

Terletak di kawasan Bandung Utara yang sejuk, pengunjung dapat menikmati pemandangan Kota Bandung dan Pegunungan yang mengelilinginya. Tersedia berbagai macam permainan yang dapat dinikmati sekeluarga antara lain : ATV Mini, ATV Cross, ATV Adventure, Buggy Mini, Buggy Cross, Segway, Children Play Ground, Horse Riding, Body Cycle, Sky Rider, dan Delman. Selain itu akhir akhir ini ditambahkan permainan baru seperti Aqua Boat, Mini Train, Bungee Trampoline, Formula Karting.

Selain permainan-permainan yang mengasyikkan, Kampung Gajah juga menyediakan aneka wisata kuliner yang siap memanjakan lidah anda. Tinggal pilih untuk menikmati masakan Eropa, Jepang, Sunda, atau masakan Tradisional lainnya. Semua dapat ditemukan di food stand , Resto & Café serta Bar & Lounge yang berada di sekitar area Kampung Gajah.

Untuk anda yang gemar berbelanja, jangan khawatir bosan, di Kampung Gajah terdapat festival Distro dan Outlet. Tidak kalah dengan yang ada di tengah Kota Bandung. Jadi sambil bermain anda juga dapat berbelanja.

Kampung Gajah buka setiap hari pukul 08.00 – 23.00 WIB, dan saat ini sedang ada “Special weekdays promo” Discount 30%. Jadi…jadi…tunggu apalagi? kalau anda mencari alternatif wisata di Kota Bandung, Kampung Gajah bisa menjadi pilihan yang menarik.

Untuk info lebih lanjut:

Hot Line (022) 2784545 atau (022)2784646

atau cek di http://www.kampunggajah.com/


Kampung Gajah

Jalan Sersan Bajuri Km 3,8 Bandung.

Info Penginapan/Hotel Murah Di Bandung Selatan

Untuk yang membutuhkan informasi mengenai penginapan atau hotel murah di Bandung Selatan, semoga daftar ini bisa membantu. Selamat berlibur, selamat menginap! :)

Wisma Banyu Segar

Jalan Soreang Banjaran No.64

Telp. (022) 5940114

Wisma Anugerah

Jalan Ciburuy No.8 Bandung 40255

Telp. (022) 5201746

Puspa Nugraha

Jalan Pasar Sadang Serang no.2

Telp. (022) 70802225

Citere Resort Hotel

Jalan Raya Pintu Penagalengan No. 589, Pangalengan

Telp. (022) 5979423

Jatinangor Hotel

Jalan Raya Jatinangor No. 13-15, Sumedang

Telp. (022) 7795784

Mess Palapa

Jalan Raya Soreang No.400

Telp. (022) 5927420

Puri Khatulistiwa Hotel dan Restauran

Jalan Raya Jatinangor Km.20

Telp. (022) 7791000

Puri Pengalengan Hotel dan Restauran

Jalan Raya Pangalengan No.341

Telp. (022) 5979292

Sumber : Made In Bandung. Sherly Suherman

Masjid Kota Bandung

Asyik keliling-keliling Bandung, tetap jangan lupa ibadah dong. Buat yang muslim, ada banyak masjid di sekitar Kota Bandung yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah  Masjid Lautze di Jalan Tamblong No. 27  Bandung.

Masjid Lautze didirikan pada tahun 1997 oleh yayasan Haji Karim Oie yang dimiliki oleh  muslim keturunan Tionghoa bernama Abdulkarim Oie Tjeng Hien. Terletak diantara bangunan-bangunan pertokoan di Jalan Tamblong, masjid Lautze memiliki arsitektur unik khas Tionghoa, sehingga lebih menyerupai kelenteng daripada mesjid. Ruangan dalam masjid, yang dihiasi oleh ornamen-ornamen khas Tionghoa, seperti lampu lampion dan kaligrafi-kaligrafi cina,  dilengkapi dengan pendingin udara, sehingga ruangan dalam masjid  tidak terasa sumpek, walaupun luas masjid ini tergolong sempit, hanya 7×6 meter. Setiap Jumat, masjid satu-satunya di Jalan tamblong ini selalu penuh sesak dikunjungi umat muslim yang akan melaksanakan ibadah sholat Jumat.

Masjid Lautze didirikan dengan tujuan sebagai pusat informasi untuk masyarakat Tionghoa yang ingin mempelajari Islam. Hal ini ditunjukkan oleh berbagai program pengajaran yang ada di Masjid ini. Salah satu program yang ada di Masjid Lautze adalah pendampingan masyarakat tionghoa yang akan atau baru menjadi mualaf (orang tionghoa  yang baru memeluk agama Islam). Selama berdiri, masjid ini telah menjadi saksi sejarah masyarakat Tionghoa yang berhasil memeluk agama Islam. Selain itu setiap hari di mesjid ini juga dilaksanakan pengajian untuk muamalaf dan masyarakat sekitar, pada pukul 10.00 – 12.00.

Selain masjid Lautze, terdapat masjid-masjid lainnya yang tak kalah menarik untuk dikunjungi, berikut ini beberapa dari masjid-masjid tersebut.

Masjid Salman ITB, Jalan Ganesha No. 7 Taman Sari (depan kampus ITB), Telp. (022) 2503645

Masjid Mujahidin, Jalan Sancang Buah Batu

Masjid Asy Syuroh , Jalan Solontongan No.4 Buah Batu, Telp. (022) 7315240

Masjid Al Furqon UPI Bandung, Jalan Dr. Setiabudhi No. 229, Telp. (022) 2015169

Masjid Daarut Tauhid , Jalan Gegerkalong Girang

Masjid Istiqomah, Jalan Taman Citarum

Masjid Pusat Dakwah Indonesia (PusDAI), Jalan Surapati (Jalan Suci)

Masjid Al Ukhuwah , Jalan Wastukencana

Masjid Al Hikmah, Jalan Punawarman

Masjid Jami Al-Aziz SMU Pasundan 2, Jalan Cihampelas (masjid ini hanya aktif saat jam sekolah)

Sumber : Made In Bandung. Sherly Suherman.

Kilometer “Nol” Bandung

Tugu kilometer “nol” terletak di tengah ruas jalan Asia – Afrika. Keberadaannya sangat mudah dikenali karena berada tepat di pinggir jalan depan kantor Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat, berhadapan dengan Hotel Savvoy Homann Bidakara. Di belakang tugu tersebut dipajang mesin giling tua.

Tugu atau Monumen Kilometer “nol” diresmikan Gubernur H. Danny Setiawan pada tanggal 18 Mei 2004.  Tugu tersebut merupakan monumen lambang yang didedikasikan bagi rakyat Priangan yang menjadi korban kerja paksa akibat kekejaman Pemerintah Kolonial Hindia Belanda saat membangun Grote Postweg (jalan raya pos).

Tempat di mana tugu kilometer “nol” Bandung diletakkan dipercaya sebagai lokasi Daendels menancapkan tongkatnya saat melakukan pemeriksaan pembangunan Grote Postweg di Dayeuh (daerah pemerintahan) Bandung. Di tempat itu pula Daendels memerintahkan Bupati Wiranatakusumah II (1794-1829) memindahkan ibu kota kabupaten Bandung dari Karapyak ke daerah Cikapundung, mendekati Jalan Raya Pos. Ia memerintahkan “Jika kelak kembali ke daerah ini (sekitar jalan Asia Afrika), lokasi yang dikunjunginya itu sudah di bangun menjadi kota”. Karapyak merupakan lokasi ibukota pertama kabupaten Bandung, terletak sekitar 10 Km arah selatan dari pusat Kota Bandung sekarang, tepatnya di daerah Dayeuhkolot. Perintah mengenai pemindahan ibukota Kabupaten Bandung diperkuat lagi dengan surat Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811) tertanggal 23 September 1810. Surat itu kemudian dijadikan dasar sejarawan Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Dr. A. Sobana Hardjasaputra, S.S., M.A., dalam menentukan berdirinya Kota Bandung. Sehingga hari jadi kota bandung yang selama itu diperingati bukan lagi tanggal 1 April, melainkan tanggal 23 September . Tanggal 1 April kemudian ditetapkan sebagai tanggal pembentukan Gemeente (kotapraja) Bandung.

Grote Postweg atau jalan raya Pos merupakan jalan yang menghubungkan Anyer (sekarang provinsi Banten) dengan Panarukan di Provinsi Jawa Timur, sejauh kurang lebih 1.000 kilometer. Pembuatan jalan tersebut menurut sejarah pos dan telekomunikasi (1808) diilhami oleh jalan pos raya pada jaman Napoleon Bonaparte yang terkenal dengan nama Curcus Publicus . Tahap pertama Anyer – Batavia yang dimulai tahun 1809 bisa diselesaikan dalam setahun. Di sepanjang jalan itu terdapat 14 Stasiun pos dimana kuda pos diganti. Jalan tersebut kemudian melewati Gambir – Jatinegara -  tanah-tanah di Tangerang Timur – Cimanggis – Cibinong, dan Bogor. Rute tersebut merupakan jalan raya lama yang menghubungkan Anyer – Jakarta – Bogor. Pembangunan paling berat dihadapi ketika membangun jalan pos dari Bogor – Cianjur – Bandung – Sumedang. Selewat Cianjur, jalan pos terhadang Sungai Cisokan dan Sungai Citarum sehingga harus disebrangi dengan rakit menuju daerah dayeuh Bandung. Di daerah dayeuh Bandung, jalan pos tersebut membagi wilayah Bandung menjadi dua bagian. Jalan itu memotong aliran Sungai Cikapundung yang berhulu di Bandung utara dan bermuara di Sungai Citarum yang tereletak di selatan Kota Bandung. Di tempat itulah Sang Gubernur Jenderal yang terkenal keras dan kejam itu menancapkan tongkatnya serta memerintahkan pemindahan ibukota Bandung. Jaraknya dengan Tugu Kilometer “nol” ditempatkan sekitar 200 meter.

Sumber :  Jendela Bandung, Kompas. Her Suganda.



Copyright © 2004–2009. All rights reserved.

RSS Feed. This blog is proudly powered by Wordpress and uses Modern Clix, a theme by Rodrigo Galindez.