Video Keuken #2 : The Flavorsome Intimacy
Yang kemaren nggak sempet mampir ke Keuken #2 tanggal 26 Februari 2012 lalu, pasti nyesel!
Ini nih cuplikan keseruan di sana.
Yang kemaren nggak sempet mampir ke Keuken #2 tanggal 26 Februari 2012 lalu, pasti nyesel!
Ini nih cuplikan keseruan di sana.
Kamu pecinta masakan Iga? Nah, di Bandung ada Iga Bakar Jogja, salah satu menunya disebut Iga Bakar Blacan. Mau tau rasanya? Continue reading…

Pasti banyak yang mengenal lagu Halo-halo Bandung yang diciptakan oleh Ismail Marzuki. Lagu ini bercerita mengenai peristiwa Bandung Lautan Api yang terjadi pada Maret 1946 tersebut. Dikisahkan Bandung yang saat itu merupakan basis militer penting, diserang oleh tentara Belanda yang berusaha merebut kembali kekuasaan di Indonesia. Rakyat dan tentara Republik Indonesia yang tidak rela Bandung kembali diduduki oleh pemerintah kolonial Belanda kemudian membumihanguskan kota. Untuk mengenang peristiwa tersebut, dibangun Tugu Bandung Lautan Api. Saat ini tugu tersebut dapat dilihat di dalam Taman Tegallega. Taman Tegallega sendiri merupakan salah satu ruang terbuka publik yang memiliki luas 16 Ha (sesuai dengan namanya tegal=lapangan, lega=luas). Dulunya taman ini digunakan sebagai tempat pertunjukkan pacuan kuda yang digemari oleh masyarakat baik dari dalam maupun luar Kota Bandung. Mungkin banyak yang belum mengetahui arti dari tugu ini dan kaitannya dengan sejarah Bandung khususnya dan Indonesia pada umumnya. Oleh karena itu jika anda mengunjungi Bandung dan mampir ke daerah Tegallega, jangan lupa untuk sejenak menengok Tugu Bandung Lautan Api. Tugu yang sarat makna sejarah mengenai perjuangan anak negeri.

Menggeliatnya kehidupan dan industri kuliner di Kota Bandung sebenarnya bukan tanpa , masalah. Selain belum ada tata ruang yang jelas mengenai peruntukan sentra-sentra kuliner yang ada, perkembangan kuliner juga cenderung mengarah ke tengah dan utara Bandung. Konsekuensinya, kedua kawasan itu ketiban beban persoalan, berupa kemacetan yang kian menjadi-jadi akibat meningkatnya volume kendaraan.
Akibatnya, rasa nyaman menjadi komoditas yang mahal, bukan hanya bagi warga sekitar, tetapi juga bagi para pemburu kuliner itu sendiri. Belum lagi ditambah oleh persoalan lain, kian langkanya lahan parkir. Bagaimanapun, kehadiran konsumen dengan beragam kendaraannya, membutuhkan ketersediaan area parkir yang memadai. Padahal, lahan parkir kian terbatas. Jika pun ada, sering memunculkan pertengkaran, yang berujung pada hilangnya rasa nyaman.
“Berburu kuliner di kawasan Bandung utara dan tengah bukan tanpa risiko, terutama risiko terjebak kemacetan. Soalnya, yang senang berburu kuliner di Kota Bandung bukan hanya kita orang Bandung, tetapi juga orang-orang luar kota. Lihat saja kendaraan yang memadati kota, kebanyakan berpelat nomor B,” kata Dion Widjaja, manajer Peta Square, sentra kuliner baru yang terletak di Jln. Peta 256 Bandung.
Atas alasan itulah, menurut Dion, ada baiknya warga dan pemburu kuliner, mulai melirik potensi kuliner yang ada di kawasan selatan Bandung. Apalagi, belakangan mulai bermunculan tempat atau sentra kuliner baru di kawasan tersebut “Hanya, keberadaan sentra-sentra kuliner tersebut masih kurang diketahui,” kata Dion.
Lulusan Marketing/Manajemen dan Psikologi Monash University Australia ini pun memberanikan diri terjun ke bisnis kuliner dengan memilih lokasi di kawasan Bandung selatan. Dion yakin, kawasan Bandung selatan akan menjadi alternatif wisata kuliner Kota Bandung. Tentu saja dengan satu syarat, Pemkot Bandung serius menggarap potensi tersebut.
“Kalau pemkot sungguh-sungguh menggarap wisata kuliner, saya rasa sangat memungkinkan, apalagi warga Jakarta sudah cukup gerah dengan kondisi kepadatan dan kemacetan di Jakarta. Mereka yang ingin menghindari keadaan.serupa di Bandung utara dan tengah, tentunya akan beralih ke Bandung selatan, ujar Dion seraya menyebutkan sekarang sudah beroperasi Festival City dan hotel di sekitar Jln. Peta.
Jika bisnis kuliner berkembang di kawasan Bandung selatan, menurut Dion, bukan saja menjadi alternatif dan solusi dalam mengurai problem kemacetan yang ada di Kota Bandung, tetapi pada saat yang sama juga membuka peluang usaha dan menyerap tenaga kerja. “PAD otomatis masuk ke pemkot, angka pengangguran bisa sedikit dikurangi,” katanya.
Dede Rohman, pengelola es campur Pak Utuy setuju dengan pendapat Dion. Kian menyebarnya sentra-sentra kuliner di Kota Bandung sangat baik bagi perkembangan industri kuliner itu sendiri. “Secara bisnis, saya sangat setuju jika industri kuliner berkembang di kawasan selatan, tidak melulu di tengah dan utara,” kata Dede yang bersama saudaranya mengelola sejumlah gerai es campur dengan merek Pak Utuy. “Induk kami memang ada di Jalan Sade-wa, tetapi alhamdulillah, kami j Jga punya beberapa outlet di sejuirilah sentra kuliner. Termasuk di Peta Square ini,” . lcata Dede yahg menyebut salah satu menu andalannya adalah es alpuket negro.
Begitu pula dengan Aditya, wiraswasta asal Kopo Kencana Bandung, sangat senang jika sentra kuliner juga berkembang di kawasan Bandung selatan. “Itu akan lebih bagus, karena orang-orang seperti saya tidak harus kejebak saat berburu kuliner. Yang penting rasa dan suasana. Jika dua hal itu terpenuhi, saya kira orang akan berdatangan dengan sendirinya,” kata Aditya, penggemar iga bakar dan jenis-jenis mi ini.
Sumber : Pikiran Rakyat
Museum Geologi Bandung dibuka untuk pertama kali tanggal 16 Mei 1929 dengan nama Geologische Museum, di bawah lembaga pertambangan pemerintah kolonial Belanda, Dienst van het Mijnwezen . Pembukaan museum ini berkaitan erat dengan sejarah penyelidikan geologi dan tambang di wilayah Nusantara yang dimulai sejak pertengahan abad ke-17 oleh para ahli di eropa. Memiliki koleksi bebatuan, mineral, meteorit, fosil dan artefak, pengunjung akan diajak untuk memahami fenomena – fenomena geologi yang pernah terjadi di Indonesia, dan kaitannya dengan kehidupan manusia saat ini. Atraksi utama di Museum Geologi antara lain fosil Homo Erectus, fosil gajah prasejarah Stegodon trigonocephalus, dan fosil spesies dinosaurus karnivora terbesar yang pernah ditemukan yaitu Tyrannosaurus rex yang hiduo di masa Cretaceous.
Saat ini Museum Geologi berada di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Gedung museum telah diperbaiki dan ditata dengan bantuan dari JICA (Japan International Cooperation Agency). Kondisi museum sangat terawat, dan jauh dari kesan suram yang biasanya melekat pada museum-museum di Indonesia.
Terletak di Jalan Diponegoro No. 57 ( dekat Gedung Sate), museum ini buka setiap hari dari Senin hingga Kamis dari pukul 09.00-15.00 WIB, dan hari Sabtu – minggu dari pukul 09.00-13.00 WIB. Museum tidak beroperasi pada hari Jum’at dan hari libur nasional. Tarif masuk museum Geologi sangat terjangkau yaitu Rp 2.000 untuk umum dan Rp 1.500 untuk pelajar.
Dengan gedung kolonial belanda yang menawan dan koleksi yang tertata dengan baik, museum Geologi sangat menarik untuk dikunjungi oleh anda yang mencari alternatif wisata murah dan memiliki unsur edukasi tinggi di tengah-tengah kota Bandung.
Museum Geologi Bandung Jl. Diponegoro No.57 Bandung – 40122 Jawa Barat, Indonesia Telepon : +6222 7213822
Mencari Alternatif baru wisata di Kota Bandung?
Bagaimana kalo kita tengok Kampung Gajah.
Eiitss…jangan membayangkan Kampung Gajah seperti Way Kambas di Lampung dimana banyak gajah berkeliaran. Kampung Gajah yang berlokasi 3,8 Km dari teminal Lembang ini, merupakan tempat wisata keluarga yang bertema : Wisata, Belanja, Kuliner.
Terletak di kawasan Bandung Utara yang sejuk, pengunjung dapat menikmati pemandangan Kota Bandung dan Pegunungan yang mengelilinginya. Tersedia berbagai macam permainan yang dapat dinikmati sekeluarga antara lain : ATV Mini, ATV Cross, ATV Adventure, Buggy Mini, Buggy Cross, Segway, Children Play Ground, Horse Riding, Body Cycle, Sky Rider, dan Delman. Selain itu akhir akhir ini ditambahkan permainan baru seperti Aqua Boat, Mini Train, Bungee Trampoline, Formula Karting.
Selain permainan-permainan yang mengasyikkan, Kampung Gajah juga menyediakan aneka wisata kuliner yang siap memanjakan lidah anda. Tinggal pilih untuk menikmati masakan Eropa, Jepang, Sunda, atau masakan Tradisional lainnya. Semua dapat ditemukan di food stand , Resto & Café serta Bar & Lounge yang berada di sekitar area Kampung Gajah.
Untuk anda yang gemar berbelanja, jangan khawatir bosan, di Kampung Gajah terdapat festival Distro dan Outlet. Tidak kalah dengan yang ada di tengah Kota Bandung. Jadi sambil bermain anda juga dapat berbelanja.
Kampung Gajah buka setiap hari pukul 08.00 – 23.00 WIB, dan saat ini sedang ada “Special weekdays promo” Discount 30%. Jadi…jadi…tunggu apalagi? kalau anda mencari alternatif wisata di Kota Bandung, Kampung Gajah bisa menjadi pilihan yang menarik.
Untuk info lebih lanjut:
Hot Line (022) 2784545 atau (022)2784646
atau cek di http://www.kampunggajah.com/
Kampung Gajah
Jalan Sersan Bajuri Km 3,8 Bandung.

Untuk yang membutuhkan informasi mengenai penginapan atau hotel murah di Bandung Selatan, semoga daftar ini bisa membantu. Selamat berlibur, selamat menginap!
Wisma Banyu Segar
Jalan Soreang Banjaran No.64
Telp. (022) 5940114
Wisma Anugerah
Jalan Ciburuy No.8 Bandung 40255
Telp. (022) 5201746
Puspa Nugraha
Jalan Pasar Sadang Serang no.2
Telp. (022) 70802225
Citere Resort Hotel
Jalan Raya Pintu Penagalengan No. 589, Pangalengan
Telp. (022) 5979423
Jatinangor Hotel
Jalan Raya Jatinangor No. 13-15, Sumedang
Telp. (022) 7795784
Mess Palapa
Jalan Raya Soreang No.400
Telp. (022) 5927420
Puri Khatulistiwa Hotel dan Restauran
Jalan Raya Jatinangor Km.20
Telp. (022) 7791000
Puri Pengalengan Hotel dan Restauran
Jalan Raya Pangalengan No.341
Telp. (022) 5979292
Sumber : Made In Bandung. Sherly Suherman

Asyik keliling-keliling Bandung, tetap jangan lupa ibadah dong. Buat yang muslim, ada banyak masjid di sekitar Kota Bandung yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya adalah Masjid Lautze di Jalan Tamblong No. 27 Bandung.
Masjid Lautze didirikan pada tahun 1997 oleh yayasan Haji Karim Oie yang dimiliki oleh muslim keturunan Tionghoa bernama Abdulkarim Oie Tjeng Hien. Terletak diantara bangunan-bangunan pertokoan di Jalan Tamblong, masjid Lautze memiliki arsitektur unik khas Tionghoa, sehingga lebih menyerupai kelenteng daripada mesjid. Ruangan dalam masjid, yang dihiasi oleh ornamen-ornamen khas Tionghoa, seperti lampu lampion dan kaligrafi-kaligrafi cina, dilengkapi dengan pendingin udara, sehingga ruangan dalam masjid tidak terasa sumpek, walaupun luas masjid ini tergolong sempit, hanya 7×6 meter. Setiap Jumat, masjid satu-satunya di Jalan tamblong ini selalu penuh sesak dikunjungi umat muslim yang akan melaksanakan ibadah sholat Jumat.
Masjid Lautze didirikan dengan tujuan sebagai pusat informasi untuk masyarakat Tionghoa yang ingin mempelajari Islam. Hal ini ditunjukkan oleh berbagai program pengajaran yang ada di Masjid ini. Salah satu program yang ada di Masjid Lautze adalah pendampingan masyarakat tionghoa yang akan atau baru menjadi mualaf (orang tionghoa yang baru memeluk agama Islam). Selama berdiri, masjid ini telah menjadi saksi sejarah masyarakat Tionghoa yang berhasil memeluk agama Islam. Selain itu setiap hari di mesjid ini juga dilaksanakan pengajian untuk muamalaf dan masyarakat sekitar, pada pukul 10.00 – 12.00.
Selain masjid Lautze, terdapat masjid-masjid lainnya yang tak kalah menarik untuk dikunjungi, berikut ini beberapa dari masjid-masjid tersebut.
Masjid Salman ITB, Jalan Ganesha No. 7 Taman Sari (depan kampus ITB), Telp. (022) 2503645
Masjid Mujahidin, Jalan Sancang Buah Batu
Masjid Asy Syuroh , Jalan Solontongan No.4 Buah Batu, Telp. (022) 7315240
Masjid Al Furqon UPI Bandung, Jalan Dr. Setiabudhi No. 229, Telp. (022) 2015169
Masjid Daarut Tauhid , Jalan Gegerkalong Girang
Masjid Istiqomah, Jalan Taman Citarum
Masjid Pusat Dakwah Indonesia (PusDAI), Jalan Surapati (Jalan Suci)
Masjid Al Ukhuwah , Jalan Wastukencana
Masjid Al Hikmah, Jalan Punawarman
Masjid Jami Al-Aziz SMU Pasundan 2, Jalan Cihampelas (masjid ini hanya aktif saat jam sekolah)
Sumber : Made In Bandung. Sherly Suherman.
Tugu kilometer “nol” terletak di tengah ruas jalan Asia – Afrika. Keberadaannya sangat mudah dikenali karena berada tepat di pinggir jalan depan kantor Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat, berhadapan dengan Hotel Savvoy Homann Bidakara. Di belakang tugu tersebut dipajang mesin giling tua.
Tugu atau Monumen Kilometer “nol” diresmikan Gubernur H. Danny Setiawan pada tanggal 18 Mei 2004. Tugu tersebut merupakan monumen lambang yang didedikasikan bagi rakyat Priangan yang menjadi korban kerja paksa akibat kekejaman Pemerintah Kolonial Hindia Belanda saat membangun Grote Postweg (jalan raya pos).
Tempat di mana tugu kilometer “nol” Bandung diletakkan dipercaya sebagai lokasi Daendels menancapkan tongkatnya saat melakukan pemeriksaan pembangunan Grote Postweg di Dayeuh (daerah pemerintahan) Bandung. Di tempat itu pula Daendels memerintahkan Bupati Wiranatakusumah II (1794-1829) memindahkan ibu kota kabupaten Bandung dari Karapyak ke daerah Cikapundung, mendekati Jalan Raya Pos. Ia memerintahkan “Jika kelak kembali ke daerah ini (sekitar jalan Asia Afrika), lokasi yang dikunjunginya itu sudah di bangun menjadi kota”. Karapyak merupakan lokasi ibukota pertama kabupaten Bandung, terletak sekitar 10 Km arah selatan dari pusat Kota Bandung sekarang, tepatnya di daerah Dayeuhkolot. Perintah mengenai pemindahan ibukota Kabupaten Bandung diperkuat lagi dengan surat Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811) tertanggal 23 September 1810. Surat itu kemudian dijadikan dasar sejarawan Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Dr. A. Sobana Hardjasaputra, S.S., M.A., dalam menentukan berdirinya Kota Bandung. Sehingga hari jadi kota bandung yang selama itu diperingati bukan lagi tanggal 1 April, melainkan tanggal 23 September . Tanggal 1 April kemudian ditetapkan sebagai tanggal pembentukan Gemeente (kotapraja) Bandung.
Grote Postweg atau jalan raya Pos merupakan jalan yang menghubungkan Anyer (sekarang provinsi Banten) dengan Panarukan di Provinsi Jawa Timur, sejauh kurang lebih 1.000 kilometer. Pembuatan jalan tersebut menurut sejarah pos dan telekomunikasi (1808) diilhami oleh jalan pos raya pada jaman Napoleon Bonaparte yang terkenal dengan nama Curcus Publicus . Tahap pertama Anyer – Batavia yang dimulai tahun 1809 bisa diselesaikan dalam setahun. Di sepanjang jalan itu terdapat 14 Stasiun pos dimana kuda pos diganti. Jalan tersebut kemudian melewati Gambir – Jatinegara - tanah-tanah di Tangerang Timur – Cimanggis – Cibinong, dan Bogor. Rute tersebut merupakan jalan raya lama yang menghubungkan Anyer – Jakarta – Bogor. Pembangunan paling berat dihadapi ketika membangun jalan pos dari Bogor – Cianjur – Bandung – Sumedang. Selewat Cianjur, jalan pos terhadang Sungai Cisokan dan Sungai Citarum sehingga harus disebrangi dengan rakit menuju daerah dayeuh Bandung. Di daerah dayeuh Bandung, jalan pos tersebut membagi wilayah Bandung menjadi dua bagian. Jalan itu memotong aliran Sungai Cikapundung yang berhulu di Bandung utara dan bermuara di Sungai Citarum yang tereletak di selatan Kota Bandung. Di tempat itulah Sang Gubernur Jenderal yang terkenal keras dan kejam itu menancapkan tongkatnya serta memerintahkan pemindahan ibukota Bandung. Jaraknya dengan Tugu Kilometer “nol” ditempatkan sekitar 200 meter.
Sumber : Jendela Bandung, Kompas. Her Suganda.

Homecare adalah fasilitas layanan untuk merawat pasien berkebutuhan medis khusus, di rumah. Fasilitas ini merupakan alternatif dari fasilitas perawatan pasien di rumah sakit. Dengan homecare, anggota keluarga dapat terlibat langsung dalam proses perawatan dan penyembuhan pasien, tanpa harus kerepotan menempuh jarak rumah sakit dan tempat tinggal serta membagi waktu untuk merawat pasien dan mengerjakan pekerjaan rumah.
Contoh dari pasien homecare antara lain :
Kebanyakan rumah sakit di kota besar, yang memiliki fasilitas homecare, menyediakan tim kesehatan profesional seperti dokter, perawat atau fisiotherapist, tapi tidak menyediakan alat kesehatan yang dibutuhkan. Pihak keluarga pasien sendirilah yang harus menyediakan peralatan untuk perawatan seperti oksigen, kursi roda, nebulizer, dan suction pump.
Seringkali keluarga pasien kesulitan mencari peralatan yang dibutuhkan untuk homecare. Griyakami Homecare hadir untuk membantu mengatasi kesulitan ini. Berlokasi di Jalan Brantas No. 7 Bandung, Griyakami Homecare menyediakan fasilitas untuk keperluan homecare seperti :
Peralatan medis yang dimiliki oleh Griyakami Homecare merupakan peralatan standar yang umum dipakai di rumah sakit dan homecare. Dijamin bahwa alat yang disediakan memiliki kualitas andal, terawat, steril, higienis, serta berfungsi dengan baik.
Mari berdoa, semoga keluarga anda di rumah senantiasa sehat dan berada dalam lindungan-Nya, akan tetapi jika suatu hari anda membutuhkan alat-alat kesehatan untuk homecare, jangan ragu-ragu untuk menghubungi Griyakami Homecare untuk mendapatkan semua fasilitas yang anda butuhkan dengan kualitas terpercaya.
Griyakami Homecare
Jl. Brantas 7 Bandung 40114, Indonesia
Ph: +62 22 7272416, +62 22 70567947-48 ; Fx : +62 22 723 1276
VoIP Rakyat (VR) : 81155 ; Email: homecare@griyakami.com
Copyright © 2004–2009. All rights reserved.
RSS Feed. This blog is proudly powered by Wordpress and uses Modern Clix, a theme by Rodrigo Galindez.