Archived entries for Sejarah

Foto Gedung Sate Zaman Baheula 2

Melanjutkan posting sebelumnya mengenai foto-foto Gedung Sate zaman dahulu.

Kuat dan utuhnya Gedung Sate hingga kini tidak terlepas dari bahan dan teknis konstruksi yang dipakai. Dinding Gedung Sate terbuat dari kepingan batu ukuran besar (1 × 1 × 2 m) yang diambil dari kawasan perbukitan batu di Bandung timur sekitar Arcamanik dan Gunung Manglayang. Konstruksi Gedung Sate dibangun menggunakan cara konvensional yang profesional dengan memperhatikan standar teknik. Fasade (tampak depan) Gedung Sate ternyata sangat diperhitungkan. Dengan mengikuti sumbu poros utara-selatan (yang juga diterapkan di Gedung Pakuan, yang menghadap Gunung Malabar di selatan), Gedung Sate justru sengaja dibangun menghadap Gunung Tangkuban Perahu di sebelah utara. Nah, biar kebayang silahkan menikmati foto-foto berikutnya:
Screen shot 2012-05-11 at 9.52.13 AM
Screen shot 2012-05-11 at 9.52.31 AM
Screen shot 2012-05-11 at 9.52.41 AM
Screen shot 2012-05-11 at 9.52.41 AM
Screen shot 2012-05-11 at 9.52.52 AM
Screen shot 2012-05-11 at 9.53.10 AM
Screen shot 2012-05-11 at 9.53.33 AM
Screen shot 2012-05-11 at 9.53.43 AM
Screen shot 2012-05-11 at 9.54.28 AM
Screen shot 2012-05-11 at 9.54.39 AM
Screen shot 2012-05-11 at 9.55.15 AM
Screen shot 2012-05-11 at 9.55.27 AM
Screen shot 2012-05-11 at 9.55.40 AM
Screen shot 2012-05-11 at 9.55.49 AM
Screen shot 2012-05-11 at 9.55.58 AM
Screen shot 2012-05-11 at 9.56.11 AM
Screen shot 2012-05-11 at 9.56.22 AM
Screen shot 2012-05-11 at 9.56.31 AM
Screen shot 2012-05-11 at 9.56.51 AM
Screen shot 2012-05-11 at 9.57.15 AM

Sumber gambar.

 

 

Foto Gedung Sate Zaman Baheula 1

Ciri khas ornamen tusuk sate pada menara sentralnya memang selalu membuat gedung sate ini terlihat unik. Gedung ini telah lama menjadi penanda  tanah Kota Bandung yang dikenal masyarakat di Jawa Barat. Model bangunan tusuk sate ini juga  dijadikan pertanda bagi beberapa bangunan dan tanda-tanda kota di Jawa Barat: misalnya bentuk gedung bagian depan Stasiun Kereta Api Tasikmalaya. Gedung Sate mulai dibangun tahun 1920, berwarna putih dan masih berdiri kokoh nan anggun, kini berfungsi sebagai gedung pusat pemerintahan Jawa Barat.

Selama kurun waktu 4 tahun pada bulan September 1924 berhasil diselesaikan pembangunan induk bangunan utama Gouverments Bedrijven, termasuk kantor pusat PTT (Pos, Telepon dan Telegraf dan Perpustakaan).  Banyak kalangan arsitek dan ahli bangunan menyatakan Gedung Sate adalah bangunan monumental yang anggun mempesona dengan gaya arsitektur unik mengarah kepada bentuk gaya arsitektur Indo-Eropa, (Indo Europeeschen architectuur stijl), sehingga tidak mustahil bila keanggunan Candi Borobudur ikut mewarnai Gedung Sate.

Nih yang mau menikmati masa-masa pembangung gedung sate saat itu:
Screen shot 2012-05-08 at 3.48.16 PM

 

Screen shot 2012-05-08 at 3.48.07 PM

Screen shot 2012-05-08 at 3.47.58 PM

 

Screen shot 2012-05-08 at 3.47.49 PM

Screen shot 2012-05-08 at 3.47.39 PM

Screen shot 2012-05-08 at 3.47.31 PM

Screen shot 2012-05-08 at 3.47.17 PM

Screen shot 2012-05-08 at 3.47.07 PM

Screen shot 2012-05-08 at 3.46.58 PM

Screen shot 2012-05-08 at 3.46.44 PM

 

Sumber gambar.

Rute dan Trayek Angkot Bandung

Bepergian dengan kendaraan umum di bandung seringkali membingungkan. Terutama jika anda baru pertama kali melakukannya, tidak seperti di kota besar pada umumnya, di Bandung rute berangkat dan rute pulang angkot belum tentu melewati jalan yang sama. Nah, untuk memudahkan perjalananmu, berikut kita informasikan rute angkutan kota yang ada di Bandung untuk memudahkan perjalanan Anda.

Oh ya, kamu juga bisa coba website lucu ini untuk mempermudah perjalanan kamu dengan Angkot Bandung. Selamat jalan-jalan!

BDUL MUIS – CICAHEUM VIA BINONG
KELUAR : Jl.Dewi Sartika – Jl.Balong Gede – Jl.Pungkur – Jl.Karapitan – Jl.Lauk emas – Jl.Buah Batu – Jl.KH.Ahmad Dahlan (Jl.Banteng) – Jl.Palasari – Jl.Talaga Bodas – Jl.Pelajar Pejuang 45 – Jl.RAA.Martanegara – Jl.Turangga – Jl.Gatot Subroto – Jl.Ibrahim Adjie (Jl.Kiaracondong) – Jl.Jakarta – Jl.Supratman – Jl.Brigjen Katamso – Jl.Pahlawan – Jl.Cikutra – Jl.KH.Hasan Mustofa – Jl.Ahmad Yani – Jl.Terminal Cicaheum .

MASUK : Terminal Cicahuem – Jl.Ahmad Yani – Jl.KH.Hasan Mustofa – Jl.Pahlawan – Jl.Brigjen Katamso – Jl.Supratman – Jl.Ahmad Yani – Jl.Bogor – Jl.Jakarta – jl.Ibrahim Adjie (Jl.kiaracondong) – Jl.Gatot Subroto – jl.Turangga – Jl.RAA.Martanegara – Jl.Pelajar pejuang 45 – Jl.Telaga Bodas – Jl.Palasari – jl.Gajah – Jl.Buah Batu – Jl.Gurame – Jl.Moh.Ramdan – Jl.BKR – Jl.Moh.Toha – Jl.Ibu Inggit – Jl.Dewi Sartika .

ABDUL MUIS – DAGO
KELUAR : 
Jl.Dewi Sartika – Jl.Balong Gede – Jl.Pungkur – Jl.Karapitan – Simpang Lima – Jl.Sunda – Jl.Sumbawa – Jl.Aceh – Jl.Sulawesih – Jl.Seram – Jl.RE.Martadinata – Jl.Ir.H.Juanda – Terminal Dago.

MASUK : Terminal Dago – Jl.Ir.H.Juanda – Jl.Merdeka – Jl.Aceh – Jl.Kalimantan – Jl.Belitung – Jl.Sumatra – Jl.Tamblong – Jl.Lengkong Besar – Jl.Ibu Inggit – Jl.Dewi Sartika .

ABDUL MUIS – LEDENG
KELUAR : 
Jl.Dewi Sartika – Jl.Balong Gede – Jl.Pungkur – Jl.Karapitan – Simpang Lima – Jl.Sunda – Jl.Banda – Jl.RE.Martadinata – Jl.Merdeka – Jl.Perintis Kemerdakaan – Jl.Wastukencana – Jl.Padjajaran -Jl.Cihampelas – Jl.Dr.Rivai – Jl.Cipaganti – Jl.Setia Budi – Jl.Karang Sari – Jl.Sukajadi – Jl.Setia Budi – Terminal Ledeng .

MASUK : Terminal Ledeng – Jl.Setia Budi – Jl.Cihampelas – Jl.Wastu Kencana – Jl.Martadinata – Jl.Merdeka – Jl.Aceh – Jl.Kalimantan – Jl.Belitung – Jl.Sumatra – Jl.Tamblong – Jl.Lengkong Besar – Jl.Ibu Inggit – Jl.Dewi Sartika . Continue reading…

Jejak Charlie Chaplin di Bandung

Ini adalah video yang menunjukkan perjalanan Charlie Chaplin ke Pulau Jawa dan Bali pada tahun 1932. Charlie bersama saudaranya, Sidney Chaplin, menuliskan dan membuat film mengenai perjalanannya di Bandung. Disebutkan bahwa Charlie juga sempat menginap di Savoy Homann.

Chaplin adalah seorang sinematografer, aktor, dan seniman serba bisa. Seniman legendaris ini, saat datang ke Indonesia, memutuskan Bandung sebagai kota pertama yang dia kunjungi. Tapi tak lama dia di Bandung, hanya beberapa jam, tujuan berikutnya adalah Garut. Kalau Bandung terkenal sebagai Parisnya Jawa, maka Garut adalah Switzerland van Java. Cukup lama Chaplin tinggal di Garut. Di sana dia membuat film dokumenter dengan kamera 16mmnya yang berukuran besar.

Potongan video di atas isinya menunjukkan footage-footage dokumentasi Chaplin di beberapa tempat yang dia kunjungi. Tapi lucu sekali melihat Chaplin bersalaman dengan para warga Garut. Atau waktu dia ikut menari dengan para penari di Bali. Waktu itu, masyarakat bali, baik laki-laki maupun perempuan masih bertelanjang dada. Banyak sekali rekaman perempuan Bali yang telanjang dada dalam film ini. Chaplin, kata si pembawa acara yang orang Belanda, memang sangat mengagumi keindahan tubuh perempuan. Meskipun filmnya tidak terlalu menarik, karena hanya berisi dokumentasi perjalanan Chaplin di Jawa dan Bali, tapi buat warga lokal terutama Bandung, film ini cukup penting. Penonton seakan diajak kembali ke masa lampau. Melihat keadaan berbagai tempat pada masa itu, dari kacamata sang legenda.

Sumber.

Tour Situs Purba di Bandung oleh Mahanagari

Mahanagari kembali menggelar Tour Bandung Purba. Ikutan yuk!

info dan reservasi:
INDRA 0812 1432 445
POERWA 0857 3765 9893

Bandung Barat mencatat cerita yang amat eksotis jika ditelusuri. Sekitar 25 Juta tahun yang lampau, wilayah yang kita kenal sebagai Rajamandala adalah sebuah taman koral pra sejarah, mirip seperti Great Barrier Reef di Australia saat ini. Fosil terumbu karang, ikan dan mahluk laut lainnya menjadi saksi bahwa jutaan tahun yang lalu wilayah ini tidak jauh berbeda dengan rumah anemon si Nemo, si Marlin dan si Dory.

Inspirasi cerita Sangkuriang pun terekam dalam berbagai landsekap di sekitarnya. Dengan amat kreatif masyarakat Parahyangan menamai pegunungan di sana sesuai legenda tersebut, seperti Karang Panganten (Iring-iringan pengantin Sangkuriang), Pasir Pawon (dapur pesta perkawinan), Gunung Masigit (tempat pelaksanaan pernikahan) sampai dengan tempat jebolnya Danau buatan Sangkurian di Sanghyang Tikoro. Continue reading…

Makna di Balik Lambang Kota Bandung

“Gemah Ripah Wibawa Mukti,” itulah motto Kota Bandung. Artinya, tanah subur rakyat makmur. Slogan tersebut tercantum pada lambang Kota Bandung, sesuai gambar di bawah ini:

Sumber: http://www.bandung.go.id
Sumber: http://www.bandung.go.id/

Lambang yang diresmikan pada tahun 1953 ini berbentuk dasar perisai, dengan makna perlindungan dari segala mara bahaya dan kesukaran. Adapun setiap warna pada lambang tersebut memiliki arti masing-masing:

  • Kuning untuk keluhuran.
  • Hitam untuk kekuatan.
  • Hijau untuk kemakmuran sejuk.
  • Putih untuk kesucian.
  • Biru untuk kesetiaan.

Pembentukan lambang Kota Bandung berawal dari penetapan Gemeente Bandung pada  tahun 1906. Gemeente adalah istilah untuk wilayah semacam kotamadya yang berada dalam kekuasaan Hindia Belanda. Nah, untuk kepentingan protokoler dan seremonial, setiap kota harus memiliki lambang kota sebagai simbol identitas yang khas.

Saat itu, dipilihlah kisah Danau Purba Bandung sebagai inspirasi untuk pembentukan lambang Gemeente Bandung. Lengkap dengan slogan berbahasa Latin, “Ex Undis Sol”. Lho, bahasa Latin? Ya, semboyan berbahasa Latin cukup populer pada masa itu. Cirebon, Malang, Blitar, dan Padang juga menggunakan bahasa Latin untuk membuat motto kota masing-masing. Dipikir-pikir, tren seperti ini sama halnya dengan slogan-slogan berbahasa Sansekerta, Kawi (Jawa Kuno), atau bahasa antik lainnya yang beredar di zaman modern. “Gemah Ripah Wibawa Mukti” pun diambil dari bahasa Kawi.

Sumber: http://cintabandung.com

Untuk memahami makna “Ex Undis Sol”, sedikit pelajaran bahasa Latin bisa membantu.

  • Ex artinya muncul atau berasal.
  • Undis artinya gelombang.
  • Sol artinya matahari.
  • Jadi, Ex Undis Sol bisa berarti matahari yang muncul dari gelombang.

Bingung? Semboyan yang sebetulnya ingin diungkapkan yaitu “tanah yang muncul dari gelombang”. Maksudnya, Bandung yang dulunya berupa gelombang (danau) kini berubah menjadi tanah (daratan). Lucunya, Gemeente Bandung salah menerjemahkan ‘tanah’ sebagai ‘sol’, padahal seharusnya ‘solum’. Jadi, slogan yang tepat adalah “Ex Undis Solum”.

Apa boleh buat, “Ex Undis Sol” bertahan sebagai motto Kota Bandung hingga akhirnya negara kita merdeka dan dibuatlah lambang kota yang baru, menggantikan warisan Kolonial Belanda.

Ada seloroh yang mengatakan bahwa “Ex Undis Sol”  justru menjadi kenyataan sekarang. Buktinya, ketika hujan turun wilayah Bandung dilanda banjir. Sebaliknya, panas matahari begitu menyengat setelah hujan reda.

Sumber:

> Kunto, Haryoto. 2008 . “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe”, cetakan ke-4. Bandung: Granesia.

> http://www.bandung.go.id/

Tugu Bandung Lautan Api

Pasti banyak yang mengenal lagu Halo-halo Bandung yang diciptakan oleh Ismail Marzuki. Lagu ini bercerita mengenai peristiwa Bandung Lautan Api yang terjadi pada Maret 1946 tersebut. Dikisahkan Bandung yang saat itu merupakan basis militer penting, diserang oleh tentara Belanda yang berusaha merebut kembali kekuasaan di Indonesia. Rakyat dan tentara Republik Indonesia yang tidak rela Bandung kembali diduduki oleh pemerintah kolonial Belanda kemudian membumihanguskan kota. Untuk mengenang peristiwa tersebut, dibangun Tugu Bandung Lautan Api. Saat ini tugu tersebut dapat dilihat di dalam Taman Tegallega. Taman Tegallega sendiri merupakan salah satu ruang terbuka publik yang memiliki luas 16 Ha (sesuai dengan namanya tegal=lapangan, lega=luas). Dulunya taman ini digunakan sebagai tempat pertunjukkan pacuan kuda yang digemari oleh masyarakat baik dari dalam maupun luar Kota Bandung. Mungkin banyak yang belum mengetahui arti dari tugu ini dan kaitannya dengan sejarah Bandung khususnya dan Indonesia pada umumnya. Oleh karena itu jika anda mengunjungi Bandung dan mampir ke daerah Tegallega, jangan lupa untuk sejenak menengok Tugu Bandung Lautan Api. Tugu yang sarat makna sejarah mengenai perjuangan anak negeri.

Serunya ke Museum Geologi Bandung

Museum Geologi Bandung dibuka untuk pertama kali tanggal 16 Mei 1929 dengan nama Geologische Museum, di bawah lembaga pertambangan pemerintah kolonial Belanda, Dienst van het Mijnwezen . Pembukaan museum ini berkaitan erat dengan sejarah  penyelidikan geologi dan tambang di wilayah Nusantara yang dimulai sejak pertengahan abad ke-17 oleh para ahli di eropa. Memiliki koleksi bebatuan, mineral, meteorit, fosil dan artefak, pengunjung akan diajak untuk memahami fenomena – fenomena geologi yang  pernah terjadi di Indonesia, dan kaitannya dengan kehidupan manusia saat ini. Atraksi utama di Museum Geologi antara lain fosil Homo Erectus, fosil gajah prasejarah Stegodon trigonocephalus, dan fosil spesies dinosaurus karnivora terbesar yang pernah ditemukan yaitu Tyrannosaurus rex yang hiduo di masa Cretaceous.

Saat ini Museum Geologi berada di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Gedung museum telah diperbaiki dan ditata dengan bantuan dari JICA (Japan International Cooperation Agency). Kondisi museum sangat terawat, dan jauh dari kesan suram yang biasanya melekat pada museum-museum di Indonesia.

Terletak di Jalan Diponegoro No. 57 ( dekat Gedung Sate), museum ini buka setiap hari dari Senin hingga Kamis dari pukul 09.00-15.00 WIB, dan hari Sabtu – minggu dari pukul 09.00-13.00 WIB. Museum tidak beroperasi pada hari Jum’at dan hari libur nasional. Tarif masuk museum Geologi sangat terjangkau yaitu Rp 2.000 untuk umum dan Rp 1.500 untuk pelajar.

Dengan gedung kolonial belanda yang menawan dan koleksi yang tertata dengan baik, museum Geologi sangat menarik untuk dikunjungi oleh anda yang mencari alternatif wisata murah dan memiliki unsur edukasi tinggi di tengah-tengah kota Bandung.

Museum Geologi Bandung
Jl. Diponegoro No.57
Bandung – 40122
Jawa Barat, Indonesia
Telepon : +6222 7213822

Kilometer “Nol” Bandung

Tugu kilometer “nol” terletak di tengah ruas jalan Asia – Afrika. Keberadaannya sangat mudah dikenali karena berada tepat di pinggir jalan depan kantor Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat, berhadapan dengan Hotel Savvoy Homann Bidakara. Di belakang tugu tersebut dipajang mesin giling tua.

Tugu atau Monumen Kilometer “nol” diresmikan Gubernur H. Danny Setiawan pada tanggal 18 Mei 2004.  Tugu tersebut merupakan monumen lambang yang didedikasikan bagi rakyat Priangan yang menjadi korban kerja paksa akibat kekejaman Pemerintah Kolonial Hindia Belanda saat membangun Grote Postweg (jalan raya pos).

Tempat di mana tugu kilometer “nol” Bandung diletakkan dipercaya sebagai lokasi Daendels menancapkan tongkatnya saat melakukan pemeriksaan pembangunan Grote Postweg di Dayeuh (daerah pemerintahan) Bandung. Di tempat itu pula Daendels memerintahkan Bupati Wiranatakusumah II (1794-1829) memindahkan ibu kota kabupaten Bandung dari Karapyak ke daerah Cikapundung, mendekati Jalan Raya Pos. Ia memerintahkan “Jika kelak kembali ke daerah ini (sekitar jalan Asia Afrika), lokasi yang dikunjunginya itu sudah di bangun menjadi kota”. Karapyak merupakan lokasi ibukota pertama kabupaten Bandung, terletak sekitar 10 Km arah selatan dari pusat Kota Bandung sekarang, tepatnya di daerah Dayeuhkolot. Perintah mengenai pemindahan ibukota Kabupaten Bandung diperkuat lagi dengan surat Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811) tertanggal 23 September 1810. Surat itu kemudian dijadikan dasar sejarawan Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Dr. A. Sobana Hardjasaputra, S.S., M.A., dalam menentukan berdirinya Kota Bandung. Sehingga hari jadi kota bandung yang selama itu diperingati bukan lagi tanggal 1 April, melainkan tanggal 23 September . Tanggal 1 April kemudian ditetapkan sebagai tanggal pembentukan Gemeente (kotapraja) Bandung.

Grote Postweg atau jalan raya Pos merupakan jalan yang menghubungkan Anyer (sekarang provinsi Banten) dengan Panarukan di Provinsi Jawa Timur, sejauh kurang lebih 1.000 kilometer. Pembuatan jalan tersebut menurut sejarah pos dan telekomunikasi (1808) diilhami oleh jalan pos raya pada jaman Napoleon Bonaparte yang terkenal dengan nama Curcus Publicus . Tahap pertama Anyer – Batavia yang dimulai tahun 1809 bisa diselesaikan dalam setahun. Di sepanjang jalan itu terdapat 14 Stasiun pos dimana kuda pos diganti. Jalan tersebut kemudian melewati Gambir – Jatinegara -  tanah-tanah di Tangerang Timur – Cimanggis – Cibinong, dan Bogor. Rute tersebut merupakan jalan raya lama yang menghubungkan Anyer – Jakarta – Bogor. Pembangunan paling berat dihadapi ketika membangun jalan pos dari Bogor – Cianjur – Bandung – Sumedang. Selewat Cianjur, jalan pos terhadang Sungai Cisokan dan Sungai Citarum sehingga harus disebrangi dengan rakit menuju daerah dayeuh Bandung. Di daerah dayeuh Bandung, jalan pos tersebut membagi wilayah Bandung menjadi dua bagian. Jalan itu memotong aliran Sungai Cikapundung yang berhulu di Bandung utara dan bermuara di Sungai Citarum yang tereletak di selatan Kota Bandung. Di tempat itulah Sang Gubernur Jenderal yang terkenal keras dan kejam itu menancapkan tongkatnya serta memerintahkan pemindahan ibukota Bandung. Jaraknya dengan Tugu Kilometer “nol” ditempatkan sekitar 200 meter.

Sumber :  Jendela Bandung, Kompas. Her Suganda.

Geliat Awal Bandung Sebagai Sebuah Kota

“Tuhan sedang tersenyum ketika menciptakan Tanah Priangan” -M.A.W. Brouwer (Alm)

Datarang tinggi Bandung sering dijuluki sebagai Priangan. Secara geografis, Bandung memang berada di daerah yang bergunung-gunung. Pemandangan indah, penduduk ramah, serta tanah yang subur membuat Brouwer amat kagum pada Bandung. Pastor Belanda itu, hingga akhir hayatnya, tetap mengagumi Priangan.

Priangan memang negeri yang elok. Di sekelilingnya berejejer gunung api. Tangkuban Parahu, sebagai salah satu puncaknya, juga mahsyur keindahan alam dan legendanya. Permadani hijau yang terdiri dari teh, kina, dan hasil perkebunan lainnya merupakan salah satu peninggalan para Preangerplanters pada masa keemasan Bandung.

Dan geliat Bandung menjadi sebuah kota diawali dengan dibangunnya jalan raya pos (Grote Postweg). Ruas jalan itu membentang arah Barat ke Timur, membelah menjadi 2 bagian: Utara dan Selatan. Karena terletak di pusat kota, Grote Postweg menjadi jalan utama dan ramai sekali di kanan dan kiri jalannya berjejer bangunan kolonial. Setelah kemerdekaan, nama jalan ini diubah menjadi Jalan Raya Barat dan Jalan Raya Timur, namun saat Soekarno memerika persiapan penyelenggaraan KAA 1955, sebagian dari ruas jalan itu diganti namanya menjadi Jalan Asia-Afrika. Panjangnya tak lebih dari 2 kilometer. Kemudian waktu berlalu dan pada 19-60an nama Jalan Raya Barat dan Jalan Raya Timur berganti menjadi Jalan Jendral Sudirman dan Jalan Jendral Ahmad Yani. Nama Jalan Asia Afrika sendiri dipilih, menyesuaikan dengan bangunan tua yang sebelumnya diberi nama gedung Concordia. Gedung ini memang diperuntukkan khusus sebagai gedung penyelenggaraan konferensi. Nah, bersamaan dengan penggantian nama jalan Grote Postweg menjadi Jalan Asia Afrika, gedung tersebut pun juga diganti namanya menjadi Gedung Merdeka.

Bagi warga kota Bandung, jalan yang membentang di depan Gedung Merdeka ini, tidak sekedar jalan yag menghubungkan wilayah Timur dan Barat kota Bandung, namun juga punya makna sejarah yang tinggi. Konon, di tempat inilah Gubernur Jendral Herman Willem Daendels (1808 – 1811) pernah menancapkan tongkatnya, dan kemudian dijadikan tugu Kilometer Nol.

Sumber: Jendela Bandung, Kompas.



Copyright © 2004–2009. All rights reserved.

RSS Feed. This blog is proudly powered by Wordpress and uses Modern Clix, a theme by Rodrigo Galindez.