Archived entries for Sejarah

Tour Situs Purba di Bandung oleh Mahanagari

Mahanagari kembali menggelar Tour Bandung Purba. Ikutan yuk!

info dan reservasi:
INDRA 0812 1432 445
POERWA 0857 3765 9893

Bandung Barat mencatat cerita yang amat eksotis jika ditelusuri. Sekitar 25 Juta tahun yang lampau, wilayah yang kita kenal sebagai Rajamandala adalah sebuah taman koral pra sejarah, mirip seperti Great Barrier Reef di Australia saat ini. Fosil terumbu karang, ikan dan mahluk laut lainnya menjadi saksi bahwa jutaan tahun yang lalu wilayah ini tidak jauh berbeda dengan rumah anemon si Nemo, si Marlin dan si Dory.

Inspirasi cerita Sangkuriang pun terekam dalam berbagai landsekap di sekitarnya. Dengan amat kreatif masyarakat Parahyangan menamai pegunungan di sana sesuai legenda tersebut, seperti Karang Panganten (Iring-iringan pengantin Sangkuriang), Pasir Pawon (dapur pesta perkawinan), Gunung Masigit (tempat pelaksanaan pernikahan) sampai dengan tempat jebolnya Danau buatan Sangkurian di Sanghyang Tikoro. Continue reading…

Lambang Kota Bandung

“Gemah Ripah Wibawa Mukti,” itulah motto Kota Bandung. Artinya, tanah subur rakyat makmur. Slogan tersebut tercantum pada lambang Kota Bandung, sesuai gambar di bawah ini:

Sumber: http://www.bandung.go.id
Sumber: http://www.bandung.go.id/

Lambang yang diresmikan pada tahun 1953 ini berbentuk dasar perisai, dengan makna perlindungan dari segala mara bahaya dan kesukaran. Adapun setiap warna pada lambang tersebut memiliki arti masing-masing:

  • Kuning untuk keluhuran.
  • Hitam untuk kekuatan.
  • Hijau untuk kemakmuran sejuk.
  • Putih untuk kesucian.
  • Biru untuk kesetiaan.

Pembentukan lambang Kota Bandung berawal dari penetapan Gemeente Bandung pada  tahun 1906. Gemeente adalah istilah untuk wilayah semacam kotamadya yang berada dalam kekuasaan Hindia Belanda. Nah, untuk kepentingan protokoler dan seremonial, setiap kota harus memiliki lambang kota sebagai simbol identitas yang khas.

Saat itu, dipilihlah kisah Danau Purba Bandung sebagai inspirasi untuk pembentukan lambang Gemeente Bandung. Lengkap dengan slogan berbahasa Latin, “Ex Undis Sol”. Lho, bahasa Latin? Ya, semboyan berbahasa Latin cukup populer pada masa itu. Cirebon, Malang, Blitar, dan Padang juga menggunakan bahasa Latin untuk membuat motto kota masing-masing. Dipikir-pikir, tren seperti ini sama halnya dengan slogan-slogan berbahasa Sansekerta, Kawi (Jawa Kuno), atau bahasa antik lainnya yang beredar di zaman modern. “Gemah Ripah Wibawa Mukti” pun diambil dari bahasa Kawi.

Sumber: http://cintabandung.com

Untuk memahami makna “Ex Undis Sol”, sedikit pelajaran bahasa Latin bisa membantu.

  • Ex artinya muncul atau berasal.
  • Undis artinya gelombang.
  • Sol artinya matahari.
  • Jadi, Ex Undis Sol bisa berarti matahari yang muncul dari gelombang.

Bingung? Semboyan yang sebetulnya ingin diungkapkan yaitu “tanah yang muncul dari gelombang”. Maksudnya, Bandung yang dulunya berupa gelombang (danau) kini berubah menjadi tanah (daratan). Lucunya, Gemeente Bandung salah menerjemahkan ‘tanah’ sebagai ‘sol’, padahal seharusnya ‘solum’. Jadi, slogan yang tepat adalah “Ex Undis Solum”.

Apa boleh buat, “Ex Undis Sol” bertahan sebagai motto Kota Bandung hingga akhirnya negara kita merdeka dan dibuatlah lambang kota yang baru, menggantikan warisan Kolonial Belanda.

Ada seloroh yang mengatakan bahwa “Ex Undis Sol”  justru menjadi kenyataan sekarang. Buktinya, ketika hujan turun wilayah Bandung dilanda banjir. Sebaliknya, panas matahari begitu menyengat setelah hujan reda.

Sumber:

> Kunto, Haryoto. 2008 . “Wajah Bandoeng Tempo Doeloe”, cetakan ke-4. Bandung: Granesia.

> http://www.bandung.go.id/

Tugu Bandung Lautan Api

Pasti banyak yang mengenal lagu Halo-halo Bandung yang diciptakan oleh Ismail Marzuki. Lagu ini bercerita mengenai peristiwa Bandung Lautan Api yang terjadi pada Maret 1946 tersebut. Dikisahkan Bandung yang saat itu merupakan basis militer penting, diserang oleh tentara Belanda yang berusaha merebut kembali kekuasaan di Indonesia. Rakyat dan tentara Republik Indonesia yang tidak rela Bandung kembali diduduki oleh pemerintah kolonial Belanda kemudian membumihanguskan kota. Untuk mengenang peristiwa tersebut, dibangun Tugu Bandung Lautan Api. Saat ini tugu tersebut dapat dilihat di dalam Taman Tegallega. Taman Tegallega sendiri merupakan salah satu ruang terbuka publik yang memiliki luas 16 Ha (sesuai dengan namanya tegal=lapangan, lega=luas). Dulunya taman ini digunakan sebagai tempat pertunjukkan pacuan kuda yang digemari oleh masyarakat baik dari dalam maupun luar Kota Bandung. Mungkin banyak yang belum mengetahui arti dari tugu ini dan kaitannya dengan sejarah Bandung khususnya dan Indonesia pada umumnya. Oleh karena itu jika anda mengunjungi Bandung dan mampir ke daerah Tegallega, jangan lupa untuk sejenak menengok Tugu Bandung Lautan Api. Tugu yang sarat makna sejarah mengenai perjuangan anak negeri.

Museum Geologi

Museum Geologi Bandung dibuka untuk pertama kali tanggal 16 Mei 1929 dengan nama Geologische Museum, di bawah lembaga pertambangan pemerintah kolonial Belanda, Dienst van het Mijnwezen . Pembukaan museum ini berkaitan erat dengan sejarah  penyelidikan geologi dan tambang di wilayah Nusantara yang dimulai sejak pertengahan abad ke-17 oleh para ahli di eropa. Memiliki koleksi bebatuan, mineral, meteorit, fosil dan artefak, pengunjung akan diajak untuk memahami fenomena – fenomena geologi yang  pernah terjadi di Indonesia, dan kaitannya dengan kehidupan manusia saat ini. Atraksi utama di Museum Geologi antara lain fosil Homo Erectus, fosil gajah prasejarah Stegodon trigonocephalus, dan fosil spesies dinosaurus karnivora terbesar yang pernah ditemukan yaitu Tyrannosaurus rex yang hiduo di masa Cretaceous.

Saat ini Museum Geologi berada di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Gedung museum telah diperbaiki dan ditata dengan bantuan dari JICA (Japan International Cooperation Agency). Kondisi museum sangat terawat, dan jauh dari kesan suram yang biasanya melekat pada museum-museum di Indonesia.

Terletak di Jalan Diponegoro No. 57 ( dekat Gedung Sate), museum ini buka setiap hari dari Senin hingga Kamis dari pukul 09.00-15.00 WIB, dan hari Sabtu – minggu dari pukul 09.00-13.00 WIB. Museum tidak beroperasi pada hari Jum’at dan hari libur nasional. Tarif masuk museum Geologi sangat terjangkau yaitu Rp 2.000 untuk umum dan Rp 1.500 untuk pelajar.

Dengan gedung kolonial belanda yang menawan dan koleksi yang tertata dengan baik, museum Geologi sangat menarik untuk dikunjungi oleh anda yang mencari alternatif wisata murah dan memiliki unsur edukasi tinggi di tengah-tengah kota Bandung.

Museum Geologi Bandung
Jl. Diponegoro No.57
Bandung – 40122
Jawa Barat, Indonesia
Telepon : +6222 7213822

Jalur KA Bandung-Sukabumi dibuka kembali

Jalur Kereta Api Bandung-Cianjur-Sukabumi akan dibuka kembali, setelah dihentikan operasionalnya sejak tahun 1980-an. Layanan Kereta Api ke arah Sukabumi dari Bandung, hingga tahun 2002 sebenarnya masih ada , akan tetapi hanya sampai stasiun Lampengan (antar Cianjur – Sukabumi) dan operasionalnya sering terhambat oleh rembesan air di terowongan Lampengan. Saat ini Departemen Perhubungan sedang berusaha memperbaiki jalur Kereta Api Bandung-Sukabumi agar nyaman dan aman untuk dilalui.

Pembukaan jalur Kereta Api Bandung-Sukabumi akan memudahkan akses masyarakat yang tinggal jauh dari jalan raya. Terutama di kawasan sekitar Stasiun Cibeber, Stasiun Lampengan, dan Stasiun Cireungas. Selain itu dari sisi pariwisata, pembukaan jalur kereta api ini menyimpan potensi wisata yang besar, mengingat jalur ke arah Sukabumi dari Bandung memiliki pemandangan yang indah. Melewati beberapa pegunungan dan memiliki beberapa terowongan yang legendaris, termasuk Lampengan.

Jika sudah mulai beroperasi perjalanan naik Kereta Api dari Bandung ke Sukabumi, patut kita coba.

Sumber : Pikiran Rakyat

Kilometer “Nol” Bandung

Tugu kilometer “nol” terletak di tengah ruas jalan Asia – Afrika. Keberadaannya sangat mudah dikenali karena berada tepat di pinggir jalan depan kantor Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat, berhadapan dengan Hotel Savvoy Homann Bidakara. Di belakang tugu tersebut dipajang mesin giling tua.

Tugu atau Monumen Kilometer “nol” diresmikan Gubernur H. Danny Setiawan pada tanggal 18 Mei 2004.  Tugu tersebut merupakan monumen lambang yang didedikasikan bagi rakyat Priangan yang menjadi korban kerja paksa akibat kekejaman Pemerintah Kolonial Hindia Belanda saat membangun Grote Postweg (jalan raya pos).

Tempat di mana tugu kilometer “nol” Bandung diletakkan dipercaya sebagai lokasi Daendels menancapkan tongkatnya saat melakukan pemeriksaan pembangunan Grote Postweg di Dayeuh (daerah pemerintahan) Bandung. Di tempat itu pula Daendels memerintahkan Bupati Wiranatakusumah II (1794-1829) memindahkan ibu kota kabupaten Bandung dari Karapyak ke daerah Cikapundung, mendekati Jalan Raya Pos. Ia memerintahkan “Jika kelak kembali ke daerah ini (sekitar jalan Asia Afrika), lokasi yang dikunjunginya itu sudah di bangun menjadi kota”. Karapyak merupakan lokasi ibukota pertama kabupaten Bandung, terletak sekitar 10 Km arah selatan dari pusat Kota Bandung sekarang, tepatnya di daerah Dayeuhkolot. Perintah mengenai pemindahan ibukota Kabupaten Bandung diperkuat lagi dengan surat Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811) tertanggal 23 September 1810. Surat itu kemudian dijadikan dasar sejarawan Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Dr. A. Sobana Hardjasaputra, S.S., M.A., dalam menentukan berdirinya Kota Bandung. Sehingga hari jadi kota bandung yang selama itu diperingati bukan lagi tanggal 1 April, melainkan tanggal 23 September . Tanggal 1 April kemudian ditetapkan sebagai tanggal pembentukan Gemeente (kotapraja) Bandung.

Grote Postweg atau jalan raya Pos merupakan jalan yang menghubungkan Anyer (sekarang provinsi Banten) dengan Panarukan di Provinsi Jawa Timur, sejauh kurang lebih 1.000 kilometer. Pembuatan jalan tersebut menurut sejarah pos dan telekomunikasi (1808) diilhami oleh jalan pos raya pada jaman Napoleon Bonaparte yang terkenal dengan nama Curcus Publicus . Tahap pertama Anyer – Batavia yang dimulai tahun 1809 bisa diselesaikan dalam setahun. Di sepanjang jalan itu terdapat 14 Stasiun pos dimana kuda pos diganti. Jalan tersebut kemudian melewati Gambir – Jatinegara -  tanah-tanah di Tangerang Timur – Cimanggis – Cibinong, dan Bogor. Rute tersebut merupakan jalan raya lama yang menghubungkan Anyer – Jakarta – Bogor. Pembangunan paling berat dihadapi ketika membangun jalan pos dari Bogor – Cianjur – Bandung – Sumedang. Selewat Cianjur, jalan pos terhadang Sungai Cisokan dan Sungai Citarum sehingga harus disebrangi dengan rakit menuju daerah dayeuh Bandung. Di daerah dayeuh Bandung, jalan pos tersebut membagi wilayah Bandung menjadi dua bagian. Jalan itu memotong aliran Sungai Cikapundung yang berhulu di Bandung utara dan bermuara di Sungai Citarum yang tereletak di selatan Kota Bandung. Di tempat itulah Sang Gubernur Jenderal yang terkenal keras dan kejam itu menancapkan tongkatnya serta memerintahkan pemindahan ibukota Bandung. Jaraknya dengan Tugu Kilometer “nol” ditempatkan sekitar 200 meter.

Sumber :  Jendela Bandung, Kompas. Her Suganda.

Geliat Awal Bandung Sebagai Sebuah Kota

“Tuhan sedang tersenyum ketika menciptakan Tanah Priangan” -M.A.W. Brouwer (Alm)

Datarang tinggi Bandung sering dijuluki sebagai Priangan. Secara geografis, Bandung memang berada di daerah yang bergunung-gunung. Pemandangan indah, penduduk ramah, serta tanah yang subur membuat Brouwer amat kagum pada Bandung. Pastor Belanda itu, hingga akhir hayatnya, tetap mengagumi Priangan.

Priangan memang negeri yang elok. Di sekelilingnya berejejer gunung api. Tangkuban Parahu, sebagai salah satu puncaknya, juga mahsyur keindahan alam dan legendanya. Permadani hijau yang terdiri dari teh, kina, dan hasil perkebunan lainnya merupakan salah satu peninggalan para Preangerplanters pada masa keemasan Bandung.

Dan geliat Bandung menjadi sebuah kota diawali dengan dibangunnya jalan raya pos (Grote Postweg). Ruas jalan itu membentang arah Barat ke Timur, membelah menjadi 2 bagian: Utara dan Selatan. Karena terletak di pusat kota, Grote Postweg menjadi jalan utama dan ramai sekali di kanan dan kiri jalannya berjejer bangunan kolonial. Setelah kemerdekaan, nama jalan ini diubah menjadi Jalan Raya Barat dan Jalan Raya Timur, namun saat Soekarno memerika persiapan penyelenggaraan KAA 1955, sebagian dari ruas jalan itu diganti namanya menjadi Jalan Asia-Afrika. Panjangnya tak lebih dari 2 kilometer. Kemudian waktu berlalu dan pada 19-60an nama Jalan Raya Barat dan Jalan Raya Timur berganti menjadi Jalan Jendral Sudirman dan Jalan Jendral Ahmad Yani. Nama Jalan Asia Afrika sendiri dipilih, menyesuaikan dengan bangunan tua yang sebelumnya diberi nama gedung Concordia. Gedung ini memang diperuntukkan khusus sebagai gedung penyelenggaraan konferensi. Nah, bersamaan dengan penggantian nama jalan Grote Postweg menjadi Jalan Asia Afrika, gedung tersebut pun juga diganti namanya menjadi Gedung Merdeka.

Bagi warga kota Bandung, jalan yang membentang di depan Gedung Merdeka ini, tidak sekedar jalan yag menghubungkan wilayah Timur dan Barat kota Bandung, namun juga punya makna sejarah yang tinggi. Konon, di tempat inilah Gubernur Jendral Herman Willem Daendels (1808 – 1811) pernah menancapkan tongkatnya, dan kemudian dijadikan tugu Kilometer Nol.

Sumber: Jendela Bandung, Kompas.



Copyright © 2004–2009. All rights reserved.

RSS Feed. This blog is proudly powered by Wordpress and uses Modern Clix, a theme by Rodrigo Galindez.